Monday, June 12, 2017

Friday, March 17, 2017

lirik

blog pertama di 2017, wow..
jadi, saya isi dengan lirik aja. saya memang tidak terlalu berminat dengan blogging..

MERDEKA
Darat laut udara milik siapa
Hajat hidup dan harkatnya untuk siapa
Mengais tanah, membentur langit kami bertanya
Mengering darah memutus cinta banyak saudara

Kami bertanya
Di manakah tanah serta mata airnya?
Di manakah rumah serta bahagianya?

Miskin takut dan terjajah karena penjara
Makmur aman dan sentausa karena negara
Berpeluh jagung berkeluh kesah kami berharap
Beribu tahun beranak pinak tanpa terlelap

Kami bertanya
Di manakah tanah serta mata airnya
Mendambakan rumah hati lega rasanya

Kami adalah orang yang merdeka
Kami hidup dalam kebebasannya
Damai lahir batinnya

Sunday, August 21, 2016


... actually, the title is a quote made by a friend. and dunno why I quite feel the feelings.
kadang segala sesuatu terasa begitu kabur, tidak jelas, dan segala sesuatu terasa membingungkan. kemudian seperti kehilangan diri kita sendiri, karakter. seperti atlit yang kehilangan refleks ketika bertanding. dan itu sebetulnya cukup mengerikan.
kedengaran berlebihan memang, bisa jadi suatu gambaran yang memang tak ada.
tapi, secara tidak sadar tiap orang telah menjadi dirinya melalui pengetahuan dan pengalaman yang dilaluinya. dan dengan itu seseorang akan berjalan begitu saja, menjadi dirinya. yang kemudian kita kenali sebagai dirinya. dan karna semua alasan itu pun kita merasa menjadi diri kita yang cukup berbeda dengan yang lain. kita menyambut suatu ajakan atau menolak. kita memilih suatu hal dan mengabaikan hal lain. dengan cepat kita memilih hitam atau putih.
seperti semua akan terasa ringan sejauh itu dikenali.

Friday, June 17, 2016

Serenade

... saya baru menyadari ini post pertama di 2016.
 Serenade
Cipt : Remy Sylado
Iwan Fals dan Ritta Rubby
 (Album Ritta Rubby ‘Wajib Belajar’ 1984)




Kudatang padamu 
Ketika anyelir ditaman masih berkerudung embun 
Diambang malamku 
Selaksa kemelut bermain tanpa terali 
Khayalku berarak 
Kutawar buatmu mungkin kau minat menjamah nya 
Dibawah letak hidung mu 
Aku minta tempat sila 
Dengan segudang kata cinta 
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu 
Merdekalah dari kungkungan mimpi 

Kicau apa gerangan yang meradang ini 
Keluh kesah atau nyanyian pecundang 
Malam masih yatim piatu yang melenggang 
Namun tak urung madahmu tangkas menyusup 
Kau giringkan rentet cinta bermandi tangis 
Astaga...! 
Terpukau aku pada dusta yang setia 

Kuharapkan tangan 
Yang bisa menggapai hatiku yang terbengkalai ini 
Diambang kangenku 
Akulah pangeran atas segala nestapa 
Gerimis yang ungu 
Perlahan menitik didalam gugusan harapan 
Dibawah letak hidungmu 
Aku minta tempat sila 
Dengan segudang kata cinta 
Pabila suatu saat umurku dipacu waktu 
Merdekalah dari kungkungan mimpi

Thursday, September 10, 2015

untitled

lama blog ini tidak diisi. kalimat awal yg sering dipakai sbg awal tulisan sy.

byk hal yang menyebabkan begitu jarang nya blog ini diisi. dan sudah pasti salah satunya adalah malas. tp utamanya sy tdk cukup punya alasan ttg kenapa harus menuliskan ssuatu disini.

saya mengakui malas bukan lah hal bagus, dan perlu banyak alasan juga utk melawan rasa malas. kembali, sy merasa membiarkan rasa malas saya pada blog ini.

saya baru saja berhasil menulis sejumlah kalimat tdk berarti apapun. baiklah, sy akan coba menyinggung bbrpa hal yg terpikirkan, rasa malas ada didalamnya. ttg perubahan yang terjadi. sy pikir, tiap org pasti pernah mengalami perubahan rutinitas, misalny dari tiap hari bangun siang menjadi bangun pagi. atau, dengan siapa dia sering berurusan/bertemu, musik apa yg didengar, dan hal2 semacamnya. sesuatu terpikirkan mirip film serial, perubahan episode.
sy pikir, mungkin, bagi bbrpa orang perubahan adalah keseharian yang akhirnya berarti sekedar akan menemukan masa-masa tidak ada cerita sebagai episode barunya. begitu jg sebaliknya. sesuatu hal yang terasa berbeda ditemukan kemudian hari. ini terdengar spekulatif.

sy tertarik menyampaikan ttg gambaran adanya gambaran yg biasa disebut 'masa2 sulit' dan 'masa2 mudah'. yg sy pernah dengar itu sebagai perputaran roda. soal itu, sebenarny sy pun tdk terlalu yakin. baiklah, jika pun roda itu adalah suatu ungkapan ttg siklus, jika memang adanya demikian, maka kisah yang sedang berjalan ini sebenarny sseuatu yg terjadi begitu saja karna tiap kita sedang menjalani situasi masing. dan suatu cerita adalah bentukkan kumpulan situasi. saya melihat anda sebagai pemeran utamany, dalam suatu kisah serial 'saat ini'. yang sedang berada disituasi anda, dan bertemu dengan orang-orang yang sedang menjalani situasinya.

saya sangat ingin mengabaikan ini semua. meski begitu, ssuatu akan terjadi nanti, seperti telah begitu banyak serial dilalui.

Friday, May 8, 2015

lirik..

sumber gambar

baik, iseng posting lagu dan lirik tak apa sepertinya.
random dan gw pilih ini aja:
Hujan Mata Pisau dari FSTVLST


 ...
tidak kan menepi, tidak berhenti
itu atau ini, pilihan yang saling satir
dan sepertinya akan semakin berat
ke cita-cita yang masih jauh di depan sana
ku berlari sendiri, tidak berhenti
kanan atau kiri, arah yang saling menyindir
dan sepertinya memang semakin berat
lihat langitnya dimanakah mataharinya
Reff;
selangit penuh mendung memperingatkan
seribuan mata pisau terhujan
dan payung bajaku biarkan tak mengembang
ketakutan yang menenggelamkan
mewajahi, mewakili, para tak terwakili
jadi kaki, dan roda bagi, para pencari matahari
selangit penuh mendung memperingatkan
seribuan mata pisau terhujan
dan payung bajaku biarkan tak mengembang
ketakutanlah yang menenggelamkan
selangit penuh cahaya tertaburkan
seribuan tangkai bunga ditumbuhkan
dan payung bajaku biarkan tak mengembang
keberanian yang menyelamatkan….

Friday, April 17, 2015

The Mountain Ash is a slow-growing tree with dark green leaves that turn orange and purple in the fall. In the spring, tiny white flowers appear, followed by flame-red fruit that is beloved by birds. This ornamental tree's pleasant appearance is the perfect expression of the Mountain Ash person's charm and even-tempered nature. These people always seem to be in a good mood, which they happily share with the rest of the world. Along with their friendliness, Mountain Ashes possess an incredible talent for self-control. They can never bring themselves to bug others with their problems. 

Mountain Ashes have both dignity and respect for others. They are independent and a bit self-centered, but they will never allow themselves to bring anybody down. They always know when they should give in, and when they should stand their ground.  

Mountain Ash people tend to be "over-thinkers" who like to calculate every single step. They get very upset when something gets out of hand, as they tend to take all the blame when something does not go according to their plan.

Despite their many positive traits, Mountain Ashes are not that easy to deal with. They make it hard for others to relax and feel comfortable around them. Mountain Ash people lack simplicity. They will listen to a person and they will be very attentive, but will then bring up every single slip of the tongue, notice every imperfection, and point out every error. This sign detects every single flaw. They will forgive people for not being perfect, but they will never forget. A simple conversation may feel like a constant test. Even so, Mountain Ashes always try to find an explanation or an excuse for the failings of others. 

Mountain Ash people seek ultimate beauty and they long for perfection. At the same time, they will never turn down a single soul simply because they are far from being ideal. Mountain Ash people are honest, loyal, and very reliable. Sometimes they are so naïve they let others manipulate them.  

People born under the sign of the Mountain Ash are extremely generous with their loved ones; they give it all, but they are very demanding in return. Mountain Ashes will never cope with betrayal. Once disappointed, these people can never forgive.

Mountain Ashes like to set a goal for themselves that they may never accomplish, because they let their daily routine get in the way. As control freaks, they sometimes lose their grasp on the big picture because they get too preoccupied with what's going to happen tomorrow. Mountain Ashes are very demanding perfectionists, which scares some people away. But if they learn to relax and take it easy, they can achieve a lot.

Thursday, February 12, 2015

tiap orang mempedulikan suatu hal. kadang saya terkesan ketika melihat seseorang mempedulikan suatu hal, atau sinis pada orang yang juga mempedulikan suatu hal lain. ya kadang. dan saya tidak tau kenapa demikian. tapi pasti ada suatu alasan kenapa. alasan-alasan yang pastinya bisa membuat terkesan, atau pun tidak.

sepertinya, seseorang akan suka dengan seseorang lain yang memiliki kepedulian yang sama. dan menjadi tidak suka jika orang tidak peduli pada apa yang dipedulikannya.

saya sendiri tidak yakin tentang ini. tentang kepedulian dan sesuatu yang seharusnya. mungkin tentang menjadi bermakna bagi orang-orang terdekat, atau tentang pencapaian, atau tentang menjadi diri sendiri, tentang banyaknya hal yang bisa diperbaiki, dan tentang apa pun itu yang mungkin terpikirkan.

kiranya saya tidak ingin memikirkannya saat ini. sebuah topik yang belum terpikirkan. semoga kalian semua telah memikirkannya. memikirkannya dua kali. dan dapat menjalaninya, sebaik-baiknya. silakan juga berusaha coba buat orang terkesan dengan hal yang dipedulikan. lebih jauh, tentu buat kemanusiaan terkesan.

sebelumnya, ini tidak pernah terbayang akan terlalu rumit. saya yakin segala sesuatu itu sederhana. mengutip ungkapan seseorang yang saya cukup terkesan padanya, '... sederhana, hanya tafsir-tafsirnya saja yang rumit."

lalu, seberapa aneh jika seseorang tidak memiliki kepedulian yang jelas? cukup aneh, tapi ketidakpedulian tersebut kiranya tidak akan terlalu kentara. saya bisa bertaruh tentang itu: orang tidak selalu dengan kepedulian yang jelas. dan tidak kentara ketika menunjukkan sikap sekedar bersimpati. semacam basa-basi dengan insentisas yang tinggi, ketika seseorang menyerahkan dirinya pada perkara yang dirinya sekedar bersimpati itu. menunjukkan, menyatakan, hal-hal lain, dan berbuat sesuatu untuk itu.
kecenderungan untuk sekedar bersimpati membuat segala sesuatu tampak baik-baik saja.

Saturday, January 24, 2015

2015

Post pertama di 2015. Sekarang 24 Januari dini hari, akan memasuki Februari,  kemudian Maret, April, Mei, dst. Seperti biasa, dan 2016, kembali tahun baru.

Tapi saya rasa itu waktu yang cukup panjang. Aku lebih suka mempercayainya begitu. Tak akan ada yang tau apa yang terjadi.

Belum ada yang bisa disampaikan. Sekedar ingin mengisi ini, di tahun 2015.